Kajian Positive Masculinity Terhadap Single Father dan Implikasinya bagi Konstruksi Paradigma Pelayanan Berwawasan Gender
DOI:
https://doi.org/10.56266/widyaborneo.v8i1.343Keywords:
Gender, Mission Paradigm, Positive Masculinity, Single ParentAbstract
Single parent adalah orang tua tunggal (ayah atau ibu) yang cerai hidup atau ditinggal mati oleh pasangan. Dalam banyak hal orang tua menjadi fondasi tangguh dalam keluarga yang sejahtera. Peran orang tua mengungkapkan keberhasilan dalam mendidik anak menentukan bagaimana anak berpikir, dan bertindak. Tulisan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap kehidupan para single parent khususnya single father di Gereja Toraja Jemaat Seriti yang menjalankan perannya dengan kesendirian. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, yakni mengamati dan melakukan wawancara dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang kehidupan single father berdasarkan teori positive masculinity. Kehidupan single father ini dilihat melalui konsep positive masculinity yang dilakukan dengan perilaku yang positif: bertanggung jawab, menggunakan kekuatannya untuk hal yang baik, dan berupaya dengan maksimal menjadi ayah yang baik bagi anaknya. Selain itu, penulis menyimpulkan bahwa paradigma misi berwawasan gender berdasarkan konteks di Gereja Toraja Jemaat Seriti ini belum ada karena program jemaat (Pelayanan diakonia dan perkunjungan) hanya berfokus kepada para janda dan anak yatim piatu.
References
Addis E, M., Mansfield K, A., & Syzdek R, M. (2010). Is “masculinity” a problem: Framing the effects of gendered social learning in men. Psychology of Men & Masculinity, 11(2), 77–90. https://doi.org/10.1037/a0018602.
Ahshari, E. R. N. (2014). Kelelahan Emosional dan Strategi Coping Pada Wanita Single Parent (Studi Kasus Single Parent di Kabupaten Paser). Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, 2(3), 170-176. https://doi.org/10.30872/psikoborneo.v2i3.3659.
Anggito, A., & Setiawan, J. (2018). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jejak.
Arifianto, Y. A., Agung, W., & Tamtomo, S. B. (2020). Membangun Paradigma Tentang Misi sebagai Landasan dan Motivasi untuk mengaktualisasi Amanat Agung. Sabda: Jurnal Teologi Kristen, 1(2), 131–141. https://doi.org/10.55097/sabda.v1i2.13.
Badaszewki Daniel, P. (2014). Beyond The Binari: How College Men Construct Positive Masculinity. Georgia.
Budiardjo, T. (2010). Anak anak Generasi terpinggirkan. Penerbit Andi.
Carlson, E.-, Kiselica, M., & S, M. (2013). Affirming the Strengths in Men: A Positive Masculinity Approach to Assisting Male Clients. Journal of Counseling & Development, 91(4), 399–409. https://doi.org/10.1002/j.1556-6676.2013.00111.x.
Coltrane, S. (194M). Theorizing Masculinities in Contemporary Social Science. Dalam Theorizing Masculinities (1–300). SAGE.
DeGue, S., Singleton, R., & Kearns, M. (2023). A Qualitative Analysis of Beliefs about Masculinity and Gender Socialization among US Mothers and Fathers of School-Age Boys. Psychology of men & masculinity, 25(2), 152–164. https://doi.org/10.1037/men0000450.
Dodson, F. (2006). Mendisplinkan Anak dengan Kasih Sayang. BPK Gunung Mulia.
Findyogi, N. (2022). Konstruksi Sosial Maskulinitas Positif dan Kesehatan Mental (Studi Fenomenologi Toxic Masculinity Pada Generasi Z ). Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Gunarsa, S. D., & Singgih, Y. (2011). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. BPK Gunung Mulia.
Hughes, K. (2000). Laki—Laki Saleh. Yayasan Kalam Hidup.
Juadi, J. (2017). Selamatkan Keluarga Anda “Membangun Keluarga Harmonis dan Bahagia dalam Kasih dan Sukacita Injil”. Kanisius.
Kabesa, R., & Berkovich, I. (2023). Gendered Constructions of Good Management by Men School Leaders: Between Hegemonic and Caring Masculinity. Educational Management Administration & Leadership, 1-17. https://doi.org/10.1177/17411432231210379.
Lerebulan, A. (2016). Keluarga Kristiani Antara Idealisme dan Tantangan. Kanisius.
Lestari, S., & Amalia, N. (2019). Peran Ayah Sebagai Orang Tua Tunggal dalam Pengasuhan Anak. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Macarthur, J. (2018). Brave Dad Menjadi Ayah yang Dibutuhkan Anak Anda. Penerbit Andi.
Munroe, M. (2015). Understanding The Purpose and Power Of Men. Immanuel Publhising House.
Munroe, M., & Burrows, D. (2009). Kingdom Parenting. Immanuel Publhising House.
Nauly, M. (2002). Konflik Peran Gender pada Pria: Teori dan Pendekatan Empirik. 1–14.
Nugroho, I. (2016). Positivisme Auguste Comte: Analisa Epistemologis Dan Nilai Etisnya Terhadap Sains. Cakrawala: Jurnal Studi Islam, 11(2), 167–177. https://doi.org/10.31603/cakrawala.v11i2.192.
Santrock W, J. (2007). Perkembangan Anak. Penerbit Erlangga.
Sari, A. (2015). Model Komunikasi Keluarga Pada Orang Tua Tungal Single Parent Dalam Pengasuhan Anak Balita. Avant Garde, 3, 126–145.
Stephens, S. (2009). Lost in Translation Bagaimana Laki-laki dan perempuan bisa Saling Memahami. Gloria Usaha Mulia.
Subeno, S. (2008). Indahnya Pernikahan Kristen Sebuah Pengajaran Alkitab. Momentum.
Musrayani, U., Rahmat, & Syaifullah. (2007). Kehidupan Orang Tua Tunggal Studi Kasus Ibu sebagai Kepala Keluarga di Kelurahan Parangloe. Unpublished Master’s Thesis, 1–13.
Wahlroos, S. (2002). Komunikasi Keluarga Panduan Menuju Kesehatan Emosional dan Hubungan antar pribadi yang lebih Harmonis. BPK Gunung Mulia.
Wandi, G. (2015). Rekonstruksi Maskulinitas Menguak Peran Laki-Laki dalam Perjuangan Kesetaraan Gender. Kafa’ah : Jurnal Ilmiah Kajian Gender, 5, 239–255.
Wibowo, A. (2013). Pemaknaan Maskulinitas (Kajian Sosiologis Tentang Pemaknaan Maskulinitas Laki-Laki Di Kota Surakarta). Thesis. Universitas Gadja Mada.
Wiyono, E. (2008). Ayah Edy Mengapa Anak Saya Suka Melawan dan Susah Diatur? Kebiasaan Orang tua yang menghasilkan Perilaku Buruk pada Anak. Grasindo.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Veracious

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.










